Posted in dedi dwitagama, Education, energizer, foto, motivasi, motivator, motivator pendidikan, motivator pramuka, NARA SUMBER PENDIDIKAN, narasumber, narasumber narkoba, narasumber pramuka, narasumberpendidkan, nasumbernarkoba, pendidikan, pendidikan karakter

Dialog Pendidikan Karakter Generasi Milineal, Pelajar SMK se Jakarta Utara


Sudin Dikmen Jakarta Utara berkenan bersinergi dengan saya untuk sessi dialog interaktif Pendidikan Karakter Generasi Milineal, pesertanya Pelajar SMK se Jakarta Utara di Ruang Audiovisual Jakarta Islamic Center 20 Februari 2009.

Pendidikan karakter berlangsung melalui proses pembiasaan melakukan hal-hal yang baik untuk membentuk karakter baik, ditambah kemampuan berprestasi yang sesuai hobby personal, maka seseorang akan memiliki nilai tambah dan mampu bertahan sebagai pribadi yang berkarakter baik, memiliki rasa percaya diri dan bisa berperan membuat kehidupan jadi lebih baik.

WhatsApp Image 2019-02-14 at 09.34.42

Screen Shot 2019-02-22 at 8.07.21 AM

Terima kasih kepada Bapak Drs. H. Momon Sulaeman, MM, MSi yang berkenan bersinergi, Kasi Dikmen Sudin Dikmen Jakarta Pusat dan panitia yang dikomando Bapak Imron yang support sessi Saya, semoga bermanfaat.

Nikmati ribuan foto-foto training saya disana, delapan ribu lebih foto saya lainnya di instagram, video saya hampir 1.500 jumlahnya bisa dinikmati di channel youtube sayaperlu download slide-slide Saya silahkan klik di slide share.

#3 @2019.

Advertisements
Posted in BNN RI, NARA SUMBER PENDIDIKAN, narasumber narkoba, Uncategorized

BNN RI: SEMINAR KETAHANAN DIRI “Mengembangkan Ketahanan Diri Masyarakat Terhadap Pengaruh Penyalahgunaan Narkoba”

DEDI DWITAGAMA BNN RI 10DEDI DWITAGAMA BNN RI 9DEDI DWITAGAMA BNN RI 8DEDI DWITAGAMA BNN RI 7DEDI DWITAGAMA BNN RI 6DEDI DWITAGAMA BNN RI 5DEDI DWITAGAMA BNN RI 4DEDI DWITAGAMA BNN RI 3DEDI DWITAGAMA BNN RI 2DEDI DWITAGAMA BNN RI 1

A. PENDAHULUAN
Data riset menunjukan bahwa pada tahun 2014 diperkirakan terdapat sekitar 4 juta orang lebih atau sekitar 2,18% dari total seluruh penduduk Indonesia berusia 10-59 tahun yang menjadi penyalahguna narkoba. Penyalah guna narkoba terbesar berasal dari kelompok pekerja karena memiliki kemampuan finansial serta tekanan kerja dan tingkat stress yang tinggi. Sementara itu, dari keseluruhan kategori penyalah guna narkoba, kelompok penyalah guna coba pakai merupakan proporsi terbesar, terutama dari kelompok pelajar dan mahasiswa.
Fenomena penyalahgunaan narkoba coba pakai dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang sangat besar dari keseluruhan penyalahguna narkoba menunjukan bahwa kalangan pelajar dan mahasiswa merupakan kelompok yang sangat rentan menjadi sasaran awal peredaran narkoba. Mereka yang menyalahgunakan narkoba dapat diindikasikan sebagai pribadi yang belum memiliki kematangan secara psikologis dan tidak mampu menghadapi atau merespon berbagai tantangan dan problematika kehidupan secara tepat atau dalam kajian psikologi mereka tidak memiliki kemampuan ketahanan diri yang cukup sehingga mudah terperdaya pengaruh penyalahgunaan narkoba.

Dalam kajian psikologi, resiliensi merupakan konstruk yang cukup menggambarkan apa yang dimaksud dengan ketahanan diri. Ketahanan diri atau resiliensi merupakan kajian yang fokus pada faktor-faktor risiko (risk factors), faktor-faktor kerentanan (vulnerabilty factors) dan faktor-faktor protektif (protective factors) yang mempengaruhi dan membantu individu mengembangkan kompetensi (competence) untuk dapat merespons lingkungan secara adaptif sehingga dapat berkembang dan menjadi dewasa (Gordon, 1995). Dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba, banyak riset yang menggunakan konsepsi ketahanan diri atau resiliensi dan konsep-konsep utama terkait sebagai kerangka untuk memahami permasalahan penyalahgunaan narkoba (Braverman, 2001). Mengingat begitu pentingnya aspek kemampuan ketahanan diri pada setiap individu sebagai faktor protektif dari pengaruh penyalahgunaan narkoba, maka BNN memandang perlu mengembangkan sistem pencegahan penyalahgunaan narkoba yang berorientasi pada penguatan kemampuan ketahanan diri masyarakat terhadap pengaruh penyalahgunaan Narkoba melalui berbagai model intervensi yang tepat.

B. MAKSUD DAN TUJUAN
Seminar Ketahanan Diri ini dimaksudkan untuk mendiskusikan berbagai faktor yang mempengaruhi kondisi ketahanan diri masyarakat khususnya terhadap pengaruh penyalahgunaan narkoba di tengah kecepatan arus informasi dan teknologi sekaligus model-model pendekatan intervensi yang dapat dilakukan BNN dalam melaksanakan tugas dan fungsi pencegahan penyalahgunan narkoba.
Adapun tujuan seminar ketahanan diri adalah adanya rekomendasi terkait model-model pendekatan alternatif atau best practice yang dapat digunakan referensi BNN dalam mengembangkan kebijakan-kebijakan teknis pencegahan penyalahgunaan narkoba.

C. BENTUK
Seminar ketahanan diri dilaksanakan dalam bentuk diskusi interaktif tentang ketahanan diri terhadap penyalahgunaan Narkoba dengan pelibatan para ahli dan praktisi serta para pemangku kebijakan terkait masalah pencegahan penyalahgunaan narkoba. Pada kesempatan ini, seminar berbentuk panel diskusi yang dimulai dengan presentasi dari beberapa narasumber.

D. WAKTU DAN TEMPAT
Seminar akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Kamis 20 Desember 2018.
Pukul : 08.00 WIB s.d Selesai
Tempat : Hotel Kartika Chandra Jakarta
Jl. Gatot Subroto Jakarta Selatan

E. MATERI DAN PEMATERI
1. Lingkungan Sekolah yang Ramah Bagi Perkembangan Kepribadian Generasi Millenia
Oleh: Dedi Dwitagama (Praktisi Pendidikan)
2. Pola Pengasuhan Keluarga Dalam Pembentukan Generasi Berketahanan Diri
Oleh: Melly Kiong (Praktisi Parenting)
3. Model Pembentukan Karakter Generasi Z
Oleh: Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si (Psikolog Anak)
4. Potret Kondisi Ketahanan Diri Remaja Terhadap Pengaruh Penyalahgunaan Narkoba
Oleh: Dr. Yunita Faela Nisa, M.Psi (Peneliti)

F. PESERTA
Peserta seminar bersifat terbatas yakni 100 orang yang berasal dari kalangan pegawai BNN, akademisi, peneliti, praktisi, dan aktivis organisasi masyarakat.

G. PENUTUP
Demikian Term Of Reference Seminar Ketahanan Diri ini disusun sebagai gambaran pelaksanaan kegiatan dimaksud.

Jadwal Acara
Seminar Ketahanan Diri
“Mengembangkan Ketahanan Diri Masyarakat
Terhadap Pengaruh Penyalahgunaan Narkoba”

NO WAKTU AGENDA PELAKSANA
Kamis, 20 Desember 2018
1. 08:00−09:00 Registrasi Panitia
2. 09.00- 09.30 Pembukaan
Deputi Bidang Pencegahan BNN Drs. Ali Djohardi, S.H., M.H.
3. 09:30−12:30 Diskusi Panel Ketahanan Diri Anti Narkoba
Tema:
“Mengembangkan Ketahanan Diri Masyarakat Terhadap Pengaruh Penyalahgunaan Narkoba”.
1. Potret Kondisi Ketahanan Diri Remaja Terhadap Pengaruh Penyalahgunaan Narkoba
Oleh: Dr. Yunita Faela Nisa, M.Psi (Peneliti)
2. Model Pembentukan Karakter Generasi Z
Oleh: Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si (Psikolog Anak)
3. Pola Pengasuhan Keluarga Dalam Pembentukan Generasi Berketahanan Diri
Oleh: Melly Kiong (Praktisi Parenting)
4. Lingkungan Sekolah yang Ramah Bagi Perkembangan Kepribadian Generasi Millenia
Oleh: Dedi Dwitagama (Praktisi Pendidikan) Moderator
4. 12:30−13:00 Kesimpulan dan Penutup Panitia.

Nikmati ribuan foto-foto training saya disana, delapan ribu lebih foto saya lainnya di instagram, video saya hampir 1.500 jumlahnya bisa dinikmati di channel youtube saya,perlu download slide-slide Saya silahkan klik di slide share.

#27 @2018.

Posted in dedi dwitagama, Education, foto, Leadership, motivasi, motivator, motivator pendidikan, pendidikan karakter

Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta: Sekolah Eksekutif Karakter Eksekutif

Sekolah Eksekutif

Sebagai Calon Eksekutif masa depan, mahasiswa harus memiliki karakter eksekutif diantaranya, produktif, selalu bergairah dan terbiasa hidup sehat tak menyalahgunakan narkoba, demikian salah satu inti sessi diskusi saya dengan BEM Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta pada kegiatan Sekolah Eksekutif, materi saya bertajuk Karakter Eksekutif di aula Politeknik Negeri Media Kreatif Serengseng Jakarta, 14 Nopember 2018.

Nikmati ribuan foto-foto training saya disana, delapan ribu lebih foto saya lainnya di instagram, video saya ada lebih dari 1.440 bisa dinikmati di channel youtube saya, perlu download slide-slide Saya silahkan klik di slide share.

#24 @2018.

Posted in motivasi, motivator, motivator pendidikan, narasumberpendidkan, pendidikan, pendidikan karakter

PGMI UIN JAKARTA: Seminar Nasional “The 21” Century Skills pada Jenjang Pendidikan Dasar

dwitagama-uin-jakarta-8

dwitagama-uin-jakarta-2

dwitagama-uin-jakarta-3

dwitagama-uin-jakarta-1

dwitagama-uin-jakarta-6

dwitagama-uin-jakarta-7

dr-dedi-dwitagama-2

RUNDOWN SEMINAR NASIONAL

THE 21St CENTURY SKILLS GURU PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR

JAKARTA, KAMIS, 27OKTOBER2016

 

WAKTU Acara Keterangan
Kamis, 27Oktober2016

THE 21St CENTURY SKILLS GURU PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR

07.00—07.30 WIB Pendaftaran Peserta Panitia
08.00 – 08.30 WIB Opening Ceremony

A.    Master of Ceremony (MC)

B.    Pembacaan ayat suci Al Qur’an

C.    Menyanyikan Indonesia Raya

D.    Sambutan-sambutan

1.     Sambutan Ketua Prodi PGMI

2.     Sambutan Dekan FITK UIN Jakarta

E.    Kreasi Seni PGMI

F.     Penutup

BEM dan Prodi PGMI
KEYNOTE SPEAKER
09.00 – 10.00 Anies Rasyid Baswedan, Ph.D

(Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Periode 2014-2016)

Sub tema : “Pendidikan Berbasis Pengembangan Skill di abad 21”

MC
12.00-13.00                                                                                   ISHOMA
SEMINAR SESSION 1
10.00 -12.30 WIB Prof. Drs. H.M. Sirozi, MA.Ph.D

(Rektor Uin Raden Fatah, Palembang)

Sub tema:

“Pengembangan Skill Guru Pada Jenjang Pendidikan Dasar”

Asep Ediana Latip, M.Pd
10.00 -12.30 WIB Prof. Dr. Phil Nur Kholis Setiawan, MA

(Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI)

Sub tema:

“Kurikulum Pengembangan Soft Skill pada Jenjang Pendidikan Marasah Ibtidaiyah ”

Asep Ediana Latip, M.Pd
SEMINAR SESSION 2
13.30-16.00 WIB Dr. Munawar-R

(Penggagas Pendidikan Karakter The ASIA Foundation)

Sub tema:

“Integrasi Soft Skill dan Hard Skill dalam Pendidikan”

Dr. Khalimi, MA
13.30-16.00 WIB Dr. Dedi Dwitagama, M.Pd

(Praktisi Pendidikan)

Sub tema :

“Pembelajaran Berorientasi Pengembangan Soft Skill”

Dr. Khalimi, MA

RUNDOWN SEMINAR NASIONAL

PENDIDIKAN BERORIENTASI PENGEMBANGAN SOFT SKILLS

JAKARTA, JUMAT, 28OKTOBER 2016

WAKTU Acara Keterangan
 

Jumat, 28Oktober 2016

THE 21St CENTURY SKILLS GURU PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR

07.00—07.30 WIB Registrasi Peserta Panitia
SEMINAR PARALEL SESSION 1
09.00 – 12.00 NARASUMBER CALL FOR PAPER LULUIL MAKNUN, M.Pd
09.00 – 12.00 NARASUMBER CALL FOR PAPER ANIS FUADAH ZUHRI, M.Pd.I
12.00-13.00                                                                                   ISHOMA
SEMINAR PARALEL SESSION 2
13.30-16.00 NARASUMBER CALL FOR PAPER DR. FIDRAYANI, M.PD
13.30-16.00 NARASUMBER CALL FOR PAPER SITI MASYITHAH, M.PD
16.00-16.30 Penutupan Moderator

 

TERM OF REFERENCE (TOR)

S E M I N A R N A S I O N A L

THE 21St CENTURY SKILLSGURU PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR”

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBITIDAIYAH (PGMI)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

TAHUN 2016

1 Kementerian : Kementerian Agama Republik Indonesia
2 Unit Organisasi : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
3 Program Studi : Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
4 Sasaran Program : Mahasiswa, Guru, Dosen dan Umum
5 Satuan Kerja : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
6 Kegiatan : SEMINAR NASIONAL
7 Tema Kegiatan : Pendidikan Berorientasi Pengembangan Soft Skill
8 Indikator Kinerja : 1.   Terlaksananya kegiatan seminar nasional
2.   Dapat menghadirkan 250 peserta seminar nasional
9 Satuan ukur/jenis keluaran : Laporan
10 Volume : 2 (Dua) kali kegiatan
  1. DASAR PEMIKIRAN

Berdasarkan data yang diadopsi dari Harvard School of Bisnis, kemampuan dan keterampilan yang diberikan di bangku pembelajaran, 90 persen adalah kemampuan teknis dan sisanya soft skill. Padahal, yang nantinya diperlukan untuk menghadapi dunia kerja yaitu hanya sekitar 15 persen kemampuan hard skill. Dari data tersebut dapat ditarik benang merah bahwa dalam memasuki dunia kerja soft skill-lah yang mempunyai peran yang lebih dominan.
Hard skills merupakan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Sementara itu, soft skills adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal (Dennis E. Coates, 2006).
Menurut Ramdhani (2008) Soft skill sering juga disebut keterampilan lunak adalah keterampilan yang digunakan dalam berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain. Secara garis besar keterampilan ini dapat dikelompokkan ke dalam: 1). Process Skills, 2). Social Skills, 3). Generic Skills
Contoh lain dari keterampilan-keterampilan yang dimasukkan dalam kategori soft skills adalah integritas, inisiatif, motivasi, etika, kerja sama dalam tim, kepemimpinan, kemauan belajar, komitmen, mendengarkan, tangguh, fleksibel, komunikasi lisan, jujur, berargumen logis, dan lainnya. Keterampilan-keterampilan tersebut umumnya berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.
Dari deskripsi di atas maka dapat ditarik kesimpulan; Hard skill adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Sedangkan soft skill adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dengan dirinya sendiri). Semua profesi membutuhkan keahlian (hard skill) tertentu akan tetapi semua profesi memerlukan soft skill
Adalah suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill (mata pelajaran), bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Lalu seberapa besar semestinya muatan soft skill dalam kurikulum pendidikan?, kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skillnya. Jika berkaca pada realita di atas, pendidikan soft skill tentu menjadi kebutuhan urgen dalam dunia pendidikan. Namun untuk mengubah kurikulum juga bukan hal yang mudah. Guru seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan soft skill pada proses pembelajarannya. Sayangnya, tidak semua guru mampu memahami dan menerapkannya. Lalu siapa yang harus melakukannya? Pentingnya penerapan pendidikan soft skill idealnya bukan saja hanya untuk anak didik saja, tetapi juga bagi guru yang punya kewajiban mengasah dan mengembangkan soft skill siswa.
Untuk mendiseminasikan soft skill pada para siswa, faktor yang sangat berpengaruh adalah dimulai dari guru, dengan  mendukung pelaksanaan pelatihan bagi para guru supaya mengerti lebih jauh tentang soft skill. Guru harus bisa jadi living example, dari mulai datang tepat waktu, mengoreksi tugas, dan sebagainya. Guru juga harus bisa melatih siswa supaya asertif, supaya berani membicarakan ide, hal ini dikarenakan bahwa kemampuan presentasi dan menulis siswa masih banyak yang belum bagus,  fenomena siswa menyontek juga jangan dianggap biasa, ini masuk faktor kejujuran dan etika dalam soft skill. Lihat di Indonesia, korupsi begitu menjamur, karena orang sudah terbiasa tidak jujur sejak masa sekolah.
Soft skill yang diberikan kepada para siswa dapat diintegrasikan dengan materi pembelajaran. Menurut Saillah (2007), materi soft skill yang perlu dikembangkan kepada para siswa, tidak lain adalah penanaman sikap jujur, kemampuan berkomunikasi, dan komitmen. Untuk mengembangkan soft skill dengan pembelajaran, perlu dilakukan perencanaan yang melibatkan para guru, siswa, alumni, dan dunia kerja, dalam mengidentifikasi pengembangan soft skill yang relevan.
Tentu saja pengidentifikasian tersebut bukan sesuatu yang “hitam-putih”, tetapi lebih merupakan kesepakatan. Dengan asumsi semua guru memahami betul isi pembelajaran yang dibina dan memahami konsep soft skill beserta komponen-komponennya, maka pengisian akan berlangsung objektif dan cermat. Dengan cara itu setiap guru mengetahui komponen soft skill apa yang harus dikembangkan ketika mengajar.
Hard skill dapat dinilai dari technical test atau practical test. Bagaimana untuk menilai soft skill siswa? Evaluasi dengan kertas dan pensil dengan jawaban tunggal (konvergen) tidak cukup. Perlu dilengkapi dengan model soal yang divergen dengan jawaban beragam. Ketika siswa mengidentifikasi informasi, sangat mungkin hasilnya beragam dan semuanya benar. Demikian pula ketika siswa menyampaikan pendapat. Komponen kesadaran diri juga lebih dekat dengan ranah afektif, sehingga evaluasinya tidak dapat hanya dengan tes. Diperlukan format observasi guna mengetahui apakah siswa memang sudah menghayati yang direpresentasikan dalam tindakan keseharian. Tes kinerja dan lembar observasi juga diperlukan untuk mengetahui kinerja siswa dalam mengerjakan tugas/tes maupun perilaku keseharian. Substansi ujian sebaiknya dikaitkan dengan masalah nyata, sehingga dapat menjadi bentuk authentic evaluation paling tidak berupa shadow authentic evaluation yang bersifat pemecahan masalah (problem based).

Cara lain untuk menilai soft skill yang dimiliki oleh siswa dapat dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara yang mendalam dan menyeluruh dengan pendekatan behavioral interview. Dengan behavioral interview, diharapkan siswa lulus tidak hanya memiliki hard skill namun juga didukung oleh soft skill yang baik.
Sekolah dasar atau menengah bahkan perguruan tinggi sudah saatnya mengembangkan pembelajaran berbasis soft skill dan hard skill. Hal ini sangat penting sebab banyak orang-orang pintar tetapi sebagian perilakunya ternyata hanya untuk kepentingan pribadi dan membodohi rakyat.
Menurut Prof. Slamet;  ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengintegrasikan soft skill dan hard skill. Pertama;  soft skill harus diintegrasikan dalam mata pelajaran dan tujuan yang akan dicapai soft skill. Sehingga tenaga pendidik harus menyeleksi dan mengorganisasikan dimensi-dimensi soft skill yang koheren dalam mata pelajaran. Kedua;  penerapan soft skill harus berdasarkan pada pengalaman kerja di sekolah misalnya jika ingin menerapkan kedisiplinan, motivasi kerja, kewirausahaan kepada peserta didik maka tenaga pendidik harus melakukan seleksi pengalaman belajar yang layak dan bermakna untuk disimulasikan. Jadi, tidak semua hal bisa dijadikan simulasi dalam pengembangan  soft skill. Ketiga;  penerapan soft skill dalam mata pelajaran (hard skill) dapat dilakukan dengan pemberian contoh oleh tenaga pendidik sehingga tenaga pendidik mengajar dari segi  abstrak ke kongkret. Hal ini dikarenakan banyak guru yang tidak mengerti mana abstrak dan kongkret.
Suatu keniscayaan, integrasi soft skill dan hard skill akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang cerdas, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti dan peduli terhadap sesama manusia dan lingkungan,Jika soft skill dan hard skill dipadukan dalam pembelajaran maka terciptalah lulusan yang cerdas, pintar dan beretika.

Atas dasar inspirasi pemikiran oleh Dr. Nurudin, MM dengantema Integrasi pembelajaran soft skill dan hard skill di atas, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah akan menindaklanjutinya melalui kegiatan seminar nasional dengan tema Pendidikan Berorientasi Pengembangan Soft Skill. Hal ini penting untuk dilaksanakan sebagai wahana pembekalan soft skill bagi peserta seminar yang terdiri dari dosen, guru, dan mahasiswa serta pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap perekmbagnan pendidikan Indonesia.

  1. TUJUAN

Kegiatan seminar nasional inibertujuan untuk:

  1. Mengembangkansoft skill guru berbasis
  2. Mengembangkan pembelajaran berorientasi soft skill
  3. Mengintegrasikan pembelajaran soft skill dan hard skill
  4. Mengembangkan kompetensi guru berbasis world recognition
  5. Mengembangkan model pendidikan soft skill di Sekolah
  6. Melaksanakan pendidikan berbasis pengembangan soft skill
  7. Melaksanakan pendidikan karakter berbasis soft skill
  8. Mengembangkan kurikulum bereorientasi pengembangan soft skill
  9. Mengembangkan soft skill guru di era MEA
  10. Mengembangkan Skill Guru di abad 21
  1. SASARAN

Sasaran dari seminar nasional dengan tema “Pendidikan Berorientasi Pengembangan Soft Skillsinidiantaranya :

  1. Mahasiswa,
  2. Guru,
  3. Dosen, dan
  4. Umum.
  1. PELAKSANAAN
  2. Tempat : Ruang Auditorium Prof. Harun Nasution UIN Jakarta
  3. Waktu : Kamis-Jumat, 27 dan28 Oktober 2016
  1. NARASUMBER

Narasumber kegiatan seminar nasional ini antara lain:

Key note Speech :

 

Anies Rasyid Baswedan, Ph.D

(Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Periode 2014-2016)

“Pendidikan Berbasis Pengembangan Skill di abad 21”

Narasumber

  1. Drs. H.M. sirozi, MA.Ph.D

(Rektor UIN Raden Fatah, Palembang)

“Pengembangan Skill Guru Pada Jenjang Pendidikan Dasar”

  1. Dr. Phil Nur Kholis Setiawan, MA

(Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI)

“Kurikulum Pengembangan Soft Skill pada Jenjang Pendidikan Marasah Ibtidaiyah ”

  1. Budi Munawar-R

(Penggagas Pendidikan Karakter The Asia Foundation)

“Integrasi Soft Skill dan Hard Skilldalam Pendidikan”

  1. Dedi Dwitagama, M.Pd

(Praktisi Pendidikan)

“Pembelajaran Berorientasi Pengembangan Soft Skill”

  1. PESERTA

Seminar ini pada hakikatnya terbuka untuk umum, namun diutamakan bagi:

  1. Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta
  2. Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta
  3. Guru di DKI Jakarta dan Banten
  4. Umum
  1. Pembiayaan

Perkiraan total biaya untuk Seminar Nasional ini adalah dibebankan pada Rencana Anggaran Biaya (RAB) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

  1. Call for Papers

Seminar ini mengundang peserta untuk mengirimkan call for papers sesuai dengan tema seminar melalui ketentuan sebagai berikut:

  1. Penerimaan naskah/artikel beserta abstrak berbahasa Inggris (250-300 kata)  dalam bentuk softcopy  paling lambat tanggal 15Oktober2016dikirimkan melalui email: asep.ediana@uinjkt.ac.id
  2. Review dan seleksi naskah/artikel tanggal 16-20Oktober 2015
  3. Pengumuman hasil seleksi tanggal 21Oktober 2016
  4. Panjang naskah maksimal 6000 kata + 15 halaman
  5. Font 12pts (Times New Roman), spasi 1,5
  6. Penulisan referensi menggunakan End Note (Body Note)
  7. Melampirkan curriculum vitae
  8. Tulisan yang terpilih akan dikenakan biaya sebesar Rp. 300.000 untuk mencetak prosiding kegiatan
  1. Tema Call for Papers
  2. Soft skill guru berbasis
  3. Pembelajaran berorientasi soft skill
  4. Integrasi pembelajaran soft skill dan hard skill
  5. Kompetensi guru berbasis world recognition
  6. Model pendidikan karakter di Sekolah
  7. Implementasi pendidikan berbasis soft skill
  8. Pendidikan berorientasi pengembangan soft skill
  9. Kurikulum bereorientasi pengembangan soft skill
  10. Pengembangan Soft skill Guru di era MEA
  11. Skill Guru pada Pendidikan Dasar di abad 21
  12. Evaluasi soft skill dan hard skill dalam pembelajaran
  1. PENUTUP

Demikian dasar pemikiran dan jenis kegiatan yang mendasari pengajuan pelaksanaan seminar nasional ini, semoga menjadi pertimbangan yang berkelanjutan.Kritik dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak sangat kami harapkan demikeberhasilankegiatan ini.

Jakarta, 05September 2016

Nikmati ribuan foto-foto training saya disana, ribuan foto saya lainnya di instagram, video saya di Youtube ada ratusan bisa dinikmati disini.

#51 @2016

Posted in Uncategorized

Motivasi Guru Prabumulih Sumatera Selatan – PD Muhammadiyah, Dinas Pendidikan Prabumulih

Image

Image

Image

Image

Misi Guru mendidikan karakter murid akan menjadi lebih mudah ketika Guru-guru memiliki karakter yang baik, karakter yang patut dicontoh, salahsatunya adalah dengan membiasakan bekerja optimal, kolaboratif, produktif dan bermanfaat buat sesama manusia. Demikian salah satu inti sharing dan diskusi saya dengan Guru-guru di Prabumulih Sumetera Selatan, 15 Mei 2014.

Kegiatan berlangsung atas kerjasama Pengurus Daerah Muhammadiyah Prabumulih dengan Dinas Pendidikan Prabumulih, sebagai rangkaian kegiatan Hari Pendidikan Nasional dan Pendirian SMK Muhammadiyah Prabumulih. Terima kasih kepada teman-teman dari PD Muhammadiyah Prabumulih yang berkenan bersinergi dengan Saya, semoga bermanfaat.

Ribuan foto-foto training saya bisa disimak disana, ratusan video saya bisa dinikmati disini.

#26 @2014 

Posted in pendidikan karakter

MOTIVASI KARAKTER SUKSES SMP JAKARTA PUSAT

COVER SLIDE
COVER SLIDE

Setelah bertemu murid-murid SMK Jakarta Pusat di BP2K Budi Utomo 18 Desember 2013, saya beranjak ke SMP Universal di Kemayoran Jakarta Pusat untuk sharing dan diskusi tentang karakter yang baik dengan murid SMP se Jakarta Pusat yang ditemani Guru-gurunya, kegiatan yang difasilitasi oleh Sudin Dikdas Jakarta Pusat, melengkapi sharing tentang berlalu lintas yang baik dari teman-teman Polisi Lalu lintas Polda Metro Jaya.

Terima kasih kepada Bapak Drs. H. Sujadiono, M.Pd, KAsudin Dikdas Jakarta Pusat yang berkenan bersinergi dan Bapak H. Iskandar, MM yang konsisten kontak saya persiapkan acara ini, semoga bermanfaat.

#105 @2013

Posted in guru, motivasi, motivator, narasumber, narasumberpendidkan, pendidikan

guru-guru bisa memiliki karakter yg baik dan mampu membentuk anak negeri yang berkarakter baik pula

20120705-153500.jpg
COVER SLIDE

Bagian pendidikan dan kesejahteraan mayarakat Walikota Jakarta Utara mengundang saya untuk sharing dan berdialog tentang Guru Masa Depan yang Berkarakter dengan guru-guru PAUD, TK dan PKBM se Jakarta Utara pagi ini 5 Juli 2012 di Lantai 14 Kantor Walikota Jakarta Utara.

OPENING

“Boleh bawa Anak TK lihat Pesawat di SMKN 29?”

DIALOG TENTANG KARAKTER

Ibu Dewi dari Walikota yang berkali-kali kontak saya berharap lewat kegiatan ini guru-guru bisa memiliki karakter yg baik dan mampu membentuk anak negeri yang berkarakter baik pula, semoga bermanfaat.