PGMI UIN JAKARTA: Seminar Nasional “The 21” Century Skills pada Jenjang Pendidikan Dasar

dwitagama-uin-jakarta-8

dwitagama-uin-jakarta-2

dwitagama-uin-jakarta-3

dwitagama-uin-jakarta-1

dwitagama-uin-jakarta-6

dwitagama-uin-jakarta-7

dr-dedi-dwitagama-2

RUNDOWN SEMINAR NASIONAL

THE 21St CENTURY SKILLS GURU PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR

JAKARTA, KAMIS, 27OKTOBER2016

 

WAKTU Acara Keterangan
Kamis, 27Oktober2016

THE 21St CENTURY SKILLS GURU PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR

07.00—07.30 WIB Pendaftaran Peserta Panitia
08.00 – 08.30 WIB Opening Ceremony

A.    Master of Ceremony (MC)

B.    Pembacaan ayat suci Al Qur’an

C.    Menyanyikan Indonesia Raya

D.    Sambutan-sambutan

1.     Sambutan Ketua Prodi PGMI

2.     Sambutan Dekan FITK UIN Jakarta

E.    Kreasi Seni PGMI

F.     Penutup

BEM dan Prodi PGMI
KEYNOTE SPEAKER
09.00 – 10.00 Anies Rasyid Baswedan, Ph.D

(Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Periode 2014-2016)

Sub tema : “Pendidikan Berbasis Pengembangan Skill di abad 21”

MC
12.00-13.00                                                                                   ISHOMA
SEMINAR SESSION 1
10.00 -12.30 WIB Prof. Drs. H.M. Sirozi, MA.Ph.D

(Rektor Uin Raden Fatah, Palembang)

Sub tema:

“Pengembangan Skill Guru Pada Jenjang Pendidikan Dasar”

Asep Ediana Latip, M.Pd
10.00 -12.30 WIB Prof. Dr. Phil Nur Kholis Setiawan, MA

(Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI)

Sub tema:

“Kurikulum Pengembangan Soft Skill pada Jenjang Pendidikan Marasah Ibtidaiyah ”

Asep Ediana Latip, M.Pd
SEMINAR SESSION 2
13.30-16.00 WIB Dr. Munawar-R

(Penggagas Pendidikan Karakter The ASIA Foundation)

Sub tema:

“Integrasi Soft Skill dan Hard Skill dalam Pendidikan”

Dr. Khalimi, MA
13.30-16.00 WIB Dr. Dedi Dwitagama, M.Pd

(Praktisi Pendidikan)

Sub tema :

“Pembelajaran Berorientasi Pengembangan Soft Skill”

Dr. Khalimi, MA

RUNDOWN SEMINAR NASIONAL

PENDIDIKAN BERORIENTASI PENGEMBANGAN SOFT SKILLS

JAKARTA, JUMAT, 28OKTOBER 2016

WAKTU Acara Keterangan
 

Jumat, 28Oktober 2016

THE 21St CENTURY SKILLS GURU PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR

07.00—07.30 WIB Registrasi Peserta Panitia
SEMINAR PARALEL SESSION 1
09.00 – 12.00 NARASUMBER CALL FOR PAPER LULUIL MAKNUN, M.Pd
09.00 – 12.00 NARASUMBER CALL FOR PAPER ANIS FUADAH ZUHRI, M.Pd.I
12.00-13.00                                                                                   ISHOMA
SEMINAR PARALEL SESSION 2
13.30-16.00 NARASUMBER CALL FOR PAPER DR. FIDRAYANI, M.PD
13.30-16.00 NARASUMBER CALL FOR PAPER SITI MASYITHAH, M.PD
16.00-16.30 Penutupan Moderator

 

TERM OF REFERENCE (TOR)

S E M I N A R N A S I O N A L

THE 21St CENTURY SKILLSGURU PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR”

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBITIDAIYAH (PGMI)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

TAHUN 2016

1 Kementerian : Kementerian Agama Republik Indonesia
2 Unit Organisasi : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
3 Program Studi : Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
4 Sasaran Program : Mahasiswa, Guru, Dosen dan Umum
5 Satuan Kerja : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
6 Kegiatan : SEMINAR NASIONAL
7 Tema Kegiatan : Pendidikan Berorientasi Pengembangan Soft Skill
8 Indikator Kinerja : 1.   Terlaksananya kegiatan seminar nasional
2.   Dapat menghadirkan 250 peserta seminar nasional
9 Satuan ukur/jenis keluaran : Laporan
10 Volume : 2 (Dua) kali kegiatan

 

  1. DASAR PEMIKIRAN

Berdasarkan data yang diadopsi dari Harvard School of Bisnis, kemampuan dan keterampilan yang diberikan di bangku pembelajaran, 90 persen adalah kemampuan teknis dan sisanya soft skill. Padahal, yang nantinya diperlukan untuk menghadapi dunia kerja yaitu hanya sekitar 15 persen kemampuan hard skill. Dari data tersebut dapat ditarik benang merah bahwa dalam memasuki dunia kerja soft skill-lah yang mempunyai peran yang lebih dominan.
Hard skills merupakan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Sementara itu, soft skills adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal (Dennis E. Coates, 2006).
Menurut Ramdhani (2008) Soft skill sering juga disebut keterampilan lunak adalah keterampilan yang digunakan dalam berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain. Secara garis besar keterampilan ini dapat dikelompokkan ke dalam: 1). Process Skills, 2). Social Skills, 3). Generic Skills
Contoh lain dari keterampilan-keterampilan yang dimasukkan dalam kategori soft skills adalah integritas, inisiatif, motivasi, etika, kerja sama dalam tim, kepemimpinan, kemauan belajar, komitmen, mendengarkan, tangguh, fleksibel, komunikasi lisan, jujur, berargumen logis, dan lainnya. Keterampilan-keterampilan tersebut umumnya berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.
Dari deskripsi di atas maka dapat ditarik kesimpulan; Hard skill adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Sedangkan soft skill adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dengan dirinya sendiri). Semua profesi membutuhkan keahlian (hard skill) tertentu akan tetapi semua profesi memerlukan soft skill
Adalah suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill (mata pelajaran), bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Lalu seberapa besar semestinya muatan soft skill dalam kurikulum pendidikan?, kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skillnya. Jika berkaca pada realita di atas, pendidikan soft skill tentu menjadi kebutuhan urgen dalam dunia pendidikan. Namun untuk mengubah kurikulum juga bukan hal yang mudah. Guru seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan soft skill pada proses pembelajarannya. Sayangnya, tidak semua guru mampu memahami dan menerapkannya. Lalu siapa yang harus melakukannya? Pentingnya penerapan pendidikan soft skill idealnya bukan saja hanya untuk anak didik saja, tetapi juga bagi guru yang punya kewajiban mengasah dan mengembangkan soft skill siswa.
Untuk mendiseminasikan soft skill pada para siswa, faktor yang sangat berpengaruh adalah dimulai dari guru, dengan  mendukung pelaksanaan pelatihan bagi para guru supaya mengerti lebih jauh tentang soft skill. Guru harus bisa jadi living example, dari mulai datang tepat waktu, mengoreksi tugas, dan sebagainya. Guru juga harus bisa melatih siswa supaya asertif, supaya berani membicarakan ide, hal ini dikarenakan bahwa kemampuan presentasi dan menulis siswa masih banyak yang belum bagus,  fenomena siswa menyontek juga jangan dianggap biasa, ini masuk faktor kejujuran dan etika dalam soft skill. Lihat di Indonesia, korupsi begitu menjamur, karena orang sudah terbiasa tidak jujur sejak masa sekolah.
Soft skill yang diberikan kepada para siswa dapat diintegrasikan dengan materi pembelajaran. Menurut Saillah (2007), materi soft skill yang perlu dikembangkan kepada para siswa, tidak lain adalah penanaman sikap jujur, kemampuan berkomunikasi, dan komitmen. Untuk mengembangkan soft skill dengan pembelajaran, perlu dilakukan perencanaan yang melibatkan para guru, siswa, alumni, dan dunia kerja, dalam mengidentifikasi pengembangan soft skill yang relevan.
Tentu saja pengidentifikasian tersebut bukan sesuatu yang “hitam-putih”, tetapi lebih merupakan kesepakatan. Dengan asumsi semua guru memahami betul isi pembelajaran yang dibina dan memahami konsep soft skill beserta komponen-komponennya, maka pengisian akan berlangsung objektif dan cermat. Dengan cara itu setiap guru mengetahui komponen soft skill apa yang harus dikembangkan ketika mengajar.
Hard skill dapat dinilai dari technical test atau practical test. Bagaimana untuk menilai soft skill siswa? Evaluasi dengan kertas dan pensil dengan jawaban tunggal (konvergen) tidak cukup. Perlu dilengkapi dengan model soal yang divergen dengan jawaban beragam. Ketika siswa mengidentifikasi informasi, sangat mungkin hasilnya beragam dan semuanya benar. Demikian pula ketika siswa menyampaikan pendapat. Komponen kesadaran diri juga lebih dekat dengan ranah afektif, sehingga evaluasinya tidak dapat hanya dengan tes. Diperlukan format observasi guna mengetahui apakah siswa memang sudah menghayati yang direpresentasikan dalam tindakan keseharian. Tes kinerja dan lembar observasi juga diperlukan untuk mengetahui kinerja siswa dalam mengerjakan tugas/tes maupun perilaku keseharian. Substansi ujian sebaiknya dikaitkan dengan masalah nyata, sehingga dapat menjadi bentuk authentic evaluation paling tidak berupa shadow authentic evaluation yang bersifat pemecahan masalah (problem based).

Cara lain untuk menilai soft skill yang dimiliki oleh siswa dapat dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara yang mendalam dan menyeluruh dengan pendekatan behavioral interview. Dengan behavioral interview, diharapkan siswa lulus tidak hanya memiliki hard skill namun juga didukung oleh soft skill yang baik.
Sekolah dasar atau menengah bahkan perguruan tinggi sudah saatnya mengembangkan pembelajaran berbasis soft skill dan hard skill. Hal ini sangat penting sebab banyak orang-orang pintar tetapi sebagian perilakunya ternyata hanya untuk kepentingan pribadi dan membodohi rakyat.
Menurut Prof. Slamet;  ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengintegrasikan soft skill dan hard skill. Pertama;  soft skill harus diintegrasikan dalam mata pelajaran dan tujuan yang akan dicapai soft skill. Sehingga tenaga pendidik harus menyeleksi dan mengorganisasikan dimensi-dimensi soft skill yang koheren dalam mata pelajaran. Kedua;  penerapan soft skill harus berdasarkan pada pengalaman kerja di sekolah misalnya jika ingin menerapkan kedisiplinan, motivasi kerja, kewirausahaan kepada peserta didik maka tenaga pendidik harus melakukan seleksi pengalaman belajar yang layak dan bermakna untuk disimulasikan. Jadi, tidak semua hal bisa dijadikan simulasi dalam pengembangan  soft skill. Ketiga;  penerapan soft skill dalam mata pelajaran (hard skill) dapat dilakukan dengan pemberian contoh oleh tenaga pendidik sehingga tenaga pendidik mengajar dari segi  abstrak ke kongkret. Hal ini dikarenakan banyak guru yang tidak mengerti mana abstrak dan kongkret.
Suatu keniscayaan, integrasi soft skill dan hard skill akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang cerdas, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti dan peduli terhadap sesama manusia dan lingkungan,Jika soft skill dan hard skill dipadukan dalam pembelajaran maka terciptalah lulusan yang cerdas, pintar dan beretika.

 

Atas dasar inspirasi pemikiran oleh Dr. Nurudin, MM dengantema Integrasi pembelajaran soft skill dan hard skill di atas, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah akan menindaklanjutinya melalui kegiatan seminar nasional dengan tema Pendidikan Berorientasi Pengembangan Soft Skill. Hal ini penting untuk dilaksanakan sebagai wahana pembekalan soft skill bagi peserta seminar yang terdiri dari dosen, guru, dan mahasiswa serta pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap perekmbagnan pendidikan Indonesia.

  1. TUJUAN

Kegiatan seminar nasional inibertujuan untuk:

  1. Mengembangkansoft skill guru berbasis
  2. Mengembangkan pembelajaran berorientasi soft skill
  3. Mengintegrasikan pembelajaran soft skill dan hard skill
  4. Mengembangkan kompetensi guru berbasis world recognition
  5. Mengembangkan model pendidikan soft skill di Sekolah
  6. Melaksanakan pendidikan berbasis pengembangan soft skill
  7. Melaksanakan pendidikan karakter berbasis soft skill
  8. Mengembangkan kurikulum bereorientasi pengembangan soft skill
  9. Mengembangkan soft skill guru di era MEA
  10. Mengembangkan Skill Guru di abad 21
  1. SASARAN

Sasaran dari seminar nasional dengan tema “Pendidikan Berorientasi Pengembangan Soft Skillsinidiantaranya :

  1. Mahasiswa,
  2. Guru,
  3. Dosen, dan
  4. Umum.
  1. PELAKSANAAN
  2. Tempat : Ruang Auditorium Prof. Harun Nasution UIN Jakarta
  3. Waktu : Kamis-Jumat, 27 dan28 Oktober 2016

 

  1. NARASUMBER

Narasumber kegiatan seminar nasional ini antara lain:

 

Key note Speech :

 

Anies Rasyid Baswedan, Ph.D

(Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Periode 2014-2016)

 

“Pendidikan Berbasis Pengembangan Skill di abad 21”

 

Narasumber

  1. Drs. H.M. sirozi, MA.Ph.D

(Rektor UIN Raden Fatah, Palembang)

“Pengembangan Skill Guru Pada Jenjang Pendidikan Dasar”

  1. Dr. Phil Nur Kholis Setiawan, MA

(Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI)

“Kurikulum Pengembangan Soft Skill pada Jenjang Pendidikan Marasah Ibtidaiyah ”

  1. Budi Munawar-R

(Penggagas Pendidikan Karakter The Asia Foundation)

“Integrasi Soft Skill dan Hard Skilldalam Pendidikan”

 

  1. Dedi Dwitagama, M.Pd

(Praktisi Pendidikan)

“Pembelajaran Berorientasi Pengembangan Soft Skill”

  1. PESERTA

Seminar ini pada hakikatnya terbuka untuk umum, namun diutamakan bagi:

  1. Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta
  2. Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta
  3. Guru di DKI Jakarta dan Banten
  4. Umum

 

  1. Pembiayaan

Perkiraan total biaya untuk Seminar Nasional ini adalah dibebankan pada Rencana Anggaran Biaya (RAB) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

  1. Call for Papers

Seminar ini mengundang peserta untuk mengirimkan call for papers sesuai dengan tema seminar melalui ketentuan sebagai berikut:

  1. Penerimaan naskah/artikel beserta abstrak berbahasa Inggris (250-300 kata)  dalam bentuk softcopy  paling lambat tanggal 15Oktober2016dikirimkan melalui email: asep.ediana@uinjkt.ac.id
  2. Review dan seleksi naskah/artikel tanggal 16-20Oktober 2015
  3. Pengumuman hasil seleksi tanggal 21Oktober 2016
  4. Panjang naskah maksimal 6000 kata + 15 halaman
  5. Font 12pts (Times New Roman), spasi 1,5
  6. Penulisan referensi menggunakan End Note (Body Note)
  7. Melampirkan curriculum vitae
  8. Tulisan yang terpilih akan dikenakan biaya sebesar Rp. 300.000 untuk mencetak prosiding kegiatan

 

  1. Tema Call for Papers
  2. Soft skill guru berbasis
  3. Pembelajaran berorientasi soft skill
  4. Integrasi pembelajaran soft skill dan hard skill
  5. Kompetensi guru berbasis world recognition
  6. Model pendidikan karakter di Sekolah
  7. Implementasi pendidikan berbasis soft skill
  8. Pendidikan berorientasi pengembangan soft skill
  9. Kurikulum bereorientasi pengembangan soft skill
  10. Pengembangan Soft skill Guru di era MEA
  11. Skill Guru pada Pendidikan Dasar di abad 21
  12. Evaluasi soft skill dan hard skill dalam pembelajaran

 

 

  1. PENUTUP

Demikian dasar pemikiran dan jenis kegiatan yang mendasari pengajuan pelaksanaan seminar nasional ini, semoga menjadi pertimbangan yang berkelanjutan.Kritik dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak sangat kami harapkan demikeberhasilankegiatan ini.

Jakarta, 05September 2016

Nikmati ribuan foto-foto training saya disana, ribuan foto saya lainnya di instagram, video saya di Youtube ada ratusan bisa dinikmati disini.

#51 @2016

3 thoughts on “PGMI UIN JAKARTA: Seminar Nasional “The 21” Century Skills pada Jenjang Pendidikan Dasar

  1. Pingback: Blog Pendidik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s