RAKER SMPN 28 JAKARTA: Merubah Budaya Sekolah

dwitagama SMPN 28 JKT

dwitagama SMPN 28 JKT 1

dwitagama SMPN 28 JKT 2

dwitagama SMPN 28 JKT 3

dwitagama SMPN 28 JKT 4

dwitagama SMPN 28 JKT 5

“Berubah adalah sesuatu yang tak mudah, tak berubah bisa fatal, mati ditelan bumi”

Saat ini sekolah di Jakarta seolah pasrah pada pasar, masyarakat sebagai konsumen bebas menentukan dan memutuskan sekolah mana yang hendak dimasuki sesuai kebutuhan dan kemampuan. Ada sekolah yang dibangun di pinggir jalan utama seolah disiapkan menjadi sekolah yang baik, murid-murid yang masuk kemudian bersaing dalam hal nilai ujian sebagai standar untuk diterima di seklah itu, sementara sekolah yang dibangun di lokasi yang kurang strategis diemohi oleh masyarakat sehingga memuat anak-anak yang sisa atau tak diterima di sekolah lain terpaksa memilih sekolah itu karena nilai yang kecil.

Akhirnya sebagian besar sekolah seolah pasrah dengan mutu siswa yang diterima dan harus kerja sangat keras buat sekolah yang tak diminati untuk memperoleh hasil Ujian Nasional yang baik, sementara sekolah yang menerima murid dengan kualitas tak perlu bekerja keras untuk membuat muridnya mencapai nilai bagus.

Ada beberap sekolah yang berhasil menerapkan disiplin yang bagus sehingga peroleh pencapaian yang bagus, mengabarkan kepada masyarakat tentang prestasi-prestasi yang dicapai dan penilaian masyarakat berubah menjadi lebih baik sehingga nilai standar murid baru meningkat dari waktu ke waktu dan ssekarang sekolah itu menerima murid baru dengan standar nilai yang tinggi.

Ada pula sekolah yang pernah menjadi sekolah terbaik tingkat nasional dan menjadi sekolah favorit di Indonesia, karena salah kelola dan faktor lainnya kini tak lagi menjadi sekolah favorit dan murid baru bisa masuk ke sekolah itu dengan nilai yang tak terlalu tinggi.

Intinya, mutu sekolah itu bisa berubah, bisa diciptakan meningkat atau dibiarkan menurun, tergantung usaha guru, karyawan dan kepala sekolah. Perbaikan dalam berbagai aspek harus selalu dilakukan di sekolah untuk menumbuhkan budaya semangat belajar dalam perasaan senang dan fokues mencapai hasil terbaik buat diri sendiri.

Seperti mengelola taman, tumbuhn yang bagus, menghailkan bunga atau buah diletakkan di bagian depan, difoto atau dikabakan kepada masyarakat, tumbuhan yang jelel atau kuruang subur disembunyikan di bagian dalam untuk diberikan perlakuan dengan memberi pupuk, obat, dsb, semenara tumbuhan yang kering, mati harus dibuang.

Demikian juga dengan guru, karyawan dan murid di sekolah, yang bermutu atau bagus diberi penghargaan, diekspos, dikedepankan, diberi tugas dan tanggung jawab lebih, yang jelek diberi konseling, pembinaan, yang busuk, rusak tak bisa mengikuti tata tertib sekolah segera dibuang. Maka … selamat menikmati taman dan sekolah yang bagus yang bakal dikunjungi banyak orag karena harum, menyejukkan mata dan hati, membentuk tumbuhan dan manusia jadi lebih baik dan produktif.

Demikian beberapa inti sharing saya di Raker SMPN 28 Jakarta Sabtu 27 Juni 2015, terima kasih kepada Kepala SMPN 28 Jakarta, Bapak H. Surachman, M.Pd yang berkenan bersinergi, semua guru dan karyawan yang serius merespon sesi saya dan berdiskusi hangat, semoga bermanfaat.

#24 @2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s