Uncategorized

hukuman mati di HANI (Hari Anti Narkoba Internasional) 2008

Selamat untuk Indonesia, dua narapidana kasus Narkoba akhirnya dieksekusi dengan ditembak … selamat untuk BNN, Kejaksaaan, Kepolisian, dan semua fihak yang dukung proses ini … sayang sekali, kenapa harus menunggu tgl 26 Juni untuk eksekusi … apakah hanya bagian dari seremonial Hari Anti Narkoba Internasional? … Saya, mungkin Anda juga berharap ini merupakan suatu pertanda pemerintah makin serius … tapi jangan setahun sekali, coba ditingkatkan jadi sebulan sekali, sehingga 62 narapidana yang sudah bervonis bisa segera habis, agar para pelaku dan calon pelaku kapok edarkan barang haram di negeri tercinta …


Gemuruh suara ombak laut Selatan Pulau Nusakambangan Cilacap menjadi saksi bisu kepergian Samuel Iwuchukwu Okeye dan Hansen Anthony Nwaolisa ke tempat peristirahatan terakhir. Tepat pukul 23.30, Kamis (26/6), dua terpidana mati kasus narkoba menghadapi eksekusi mati di hadapan regu tembak.

Sebanyak 28 orang polisi dari Kesatuan Brigade Mobil (Brimob) Polda Jateng, dilaporkan mengeksekusi dua warga negara Nigeria itu di kawasan Nirbaya, Pulau Nusakambangan –sekiar 10 km selatan LP Batu. Lokasi eksekusi merupakan reruntuhan bekas penjara pada zaman penjajahan Belanda.

Di tempat tersebut dulu pernah dilakukan eksekusi mati terhadap tahanan politik eks PKI pada tahun 1985 dan narapidana kasus subversi pada tahun 1987. Kepala Satuan Brimob Polda Jateng, Kombes Pol Dicky Atotoy yang dihubungi Jumat (27/6) dinihari menyatakan kedua terpidana mati tersebut dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 24.00 oleh dokter yang melakukan otopsi. Keduanya meninggal setelah sebutir peluru menembus jantungnya. ”Setelah dieksekusi, kedua terpidana langsung menjalani otopsi oleh tim dokter,” kata Dicky.

Menurutnya, kedua terpidana mati menjalani eksekusi di depan dua regu tembak dari Brimob Polda Jateng yang terdiri 14 orang setiap regunya. Sebelum menjalani eksekusi, salah seorang pejabat Kejaksaan menceritakan detik-detik terakhir kedua terpidana mati. Sekitar pukul 22.30, kedua terpidana tersebut dibimbing doa oleh Romo Carolus dari Paroki Stefanus Cilacap sesuai agama mereka.

Setelah itu kedua terpidana dibawa ke tempat eksekusi yang berada di kawasan Nirbaya. Dengan kepala tertutup dan tangan terbogol di tiang eksekusi, kedua terpidana mati kemudian ditembak oleh dua regu tembak secar bersamaan. Sehari sebelumnya, Samuel dan Hansen mendapat kunjungan istri dan anaknya. ”Jenasah kedua terpidana langsung dimakamkan di Pulau Nusakambangan,” kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Cilacap, M Yamin RS, Jumat (27/6).

Sementara itu, pengacara dari dua terpidana mati tersebut, Bambang Sri Wahono mengatakan, para istri dua kliennya menghendaki jasad suami mereka tidak dikebumikan di Nusakambangan. Dia juga mengatakan, pihaknya belum mendapat pemberitahuan resmi dari kejaksaan terkait pelaksanaan eksekusi tersebut. ”Para istri klien kami menghendaki jasad suaminya bisa dibawa pulang keluarganya, apalagi salah satu istri klien kami sedang mengandung dan yang lainnya memiliki seorang anak kecil,” katanya.

Bambang mengatakan, Sri Lestari (istri Samuel) menginginkan jenazah suaminya dimakamkan di pemakaman Katolik Cilacap, sedangkan Tri Yatmi (istri Hansen) akan membawa jasad suaminya untuk dimakamkan di Jakarta.

Menurut dia, pihaknya akan mengajukan permohonan pemindahan pemakaman tersebut kepada kejaksaaan. ”Disetujui atau tidak, permohonan ini akan kami ajukan. Namun jika tidak disetujui, berarti mereka melanggar Penetapan Presiden Nomor 2 Tahun 1964 pasal 15,” katanya.

Menurut dia, pasal tersebut menyatakan penguburan terpidana diserahkan kepada keluarganya atau sahabat terpidana. Jika tidak disetujui, kata dia, pihaknya akan mengajukan gugatan karena penguburan jenazah dua terpidana mati tersebut tidak sah.

Kepala Divisi Lembaga Pemasyarakatan Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Provinsi Jawa Tengah, Bambang Winahyo mengaku heran jika kedua terpidana mempunyai istri. Pasalnya dalam surat keterangan yang ada, dikatakan keduanya lajang. ”Sebenarnya ini bukan kewenangan saya, silakan tanyakan kepada Kejati Banten. Saya tidak dapat laporan dari kejaksaan jika mereka telah beristri,” tegasnya.

Menurut dia, kemungkinan perempuan yang disebut sebagai istri Samuel hanya mengaku hamil tiga bulan sedangkan terpidana mati tersebut telah menjalani hukuman yang cukup lama yakni sejak 2001 di Lembaga Pemasyarakatan Tangerang hingga dipindahkan ke LP Pasir Putih Pulau Nusakambangan pada tahun 2007. ”Jadi sangat kecil perempuan itu hamil karena dia tidak bisa meninggalkan LP Pasir Putih yang penjagaannya super ketat,” jelasnya.

Hansen dan Samuel merupakan dua terpidana kasus narkoba dari 62 orang napi narkoba yang saat ini sedang menunggu proses eksekusi. Jaksa Agung Hendarman Supandji usai peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) di Jakarta, Rabu (26/6) menyatakan dari 62 orang sebanyak 57 orang lagi akan segera menyusul untuk dieksekusi.
(ant/wab )

Narkoba · pendidikan

Permen Coklat NARKOBIS

Polisi masih mengejar Rudi (42), ayah Rida Wahyu, siswa Taman Kanak-Kanak (TK) Sekar Bangsa, Pondok Labu, Jaksel. Ayah Rida melarikan diri setelah mengetahui empat teman anaknya mabuk setelah mengonsumsi permen seperti cokelat yang diberikan Rida.

Dari hasil penyelidikan kepolisian, ternyata permen seperti cokelat itu mengandung narkoba jenis happy five. Narkoba jenis ini merupakan zat psikotropika aktif minor tranquilizer yang bersifat menenangkan atau menidurkan.


Kapolsek Metro Cilandak Kompol Makmur Simbolon, kepada wartawan, Selasa (10/6), mengatakan, pihaknya masih mengejar Rudi.

Pengejaran dilakukan di beberapa lokasi yang diperkirakan sebagai tempat persembunyiannya, termasuk beberapa tempat yang menjadi pangkalan truk kontainer, sesuai profesi Rudi. Dari penyelidikan polisi, Rudi merupakan karyawan swasta bagian ekspedisi di kawasan Tanjung Priok, Jakut.

Ketika ditanya wartawan apakah Rudi merupakan bagian dari sindikat narkoba, Simbolon belum bisa memastikannya. “Nanti akan kita telusuri, yang pasti ia harus tertangkap dulu. Seharusnya dia tidak melarikan diri,” katanya.

Kapolres Metro Jaksel Kombes Pol Chairul Anwar menambahkan, Ny Sri yang juga ibu Rida Wahyu mendapatkan pil itu setelah mengorek-ngorek tas suaminya yang baru pulang dari luar kota.

Dari tas suaminya, Ny Sri mendapati 30 butir pil dalam tiga strip, yang dibungkus dalam kemasan cokelat Alpine. Karena ia mengira pil-pil itu adalah cokelat oleh-oleh, Ny Sri langsung menyimpan pil-pil itu di lemari es.

Saat Rida akan berangkat sekolah, ia membuka lemari es dan mendapati cokelat itu. Rida sempat bertanya kepada ibunya tentang cokelat itu dan dijawab oleh ibunya bahwa cokelat itu oleh-oleh ayahnya. Selanjutnya Rida membawa cokelat itu ke sekolah sebagai bekal.

Bersama empat temannya, Rida memakan 11 butir coklat itu di sekolahnya. Setelah mengonsumsi permen itu, kelima anak-anak tersebut teler dan berjalan sempoyongan. Bahkan ada yang menabrak pintu. Melihat kejadian itu, sekolah langsung geger.

Wakabid Pelayanan IGD RS Fatmawati, dr Ugi Sugiri, menjelaskan, dari hasil tes urine, kelima anak itu positif mengandung zat psikotropika jenis benzodiaspin.

Happy five akan menyebabkan efek lemah dan tertidur seperti obat tidur. Jika dikonsumsi dalam dosis tinggi, akan terjadi depresi pernapasan atau sulit bernapas.

Saat ini, lanjutnya, Rida Wahyu dan Adrian masih dirawat secara intensif, sedangkan tiga teman lainnya sudah diperbolehkan pulang.

“Kami obati dengan sistem hidrasi atau mengalirkan air ke dalam tubuh, dengan harapan zat psikotropika dapat keluar melalui air seni,” katanya. (Joko Sriyono)

Source: Suara Karya

puisi

Rendra; Doa seorang serdadu sbelum berperang

Tuhan ku
wajah Mu membayang di kota terbakar
dan firman Mu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
anak menangis kehilangan bapak
tanah sepi kehilangan lelakinya
bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
waktu itu, Tuhan ku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku memasukkan sangkurku
malam dan wajahku adalah satu warna
dosa dan nafasku adalah satu udara
tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari biarpun bersama penyesalan
apa yang bisa diucapkan oleh bibirku yang terjajah ?
sementara kulihat kedua tangan Mu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianati Mu
Tuhan ku
erat-erat kugenggam senapanku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Education

bakat besar dan pikiran besar; HUDAN HIDAYAT

Seorang penyair yang baik bukan seorang yang besar niatnya untuk membuat puisi yang baik, tapi besar bakatnya untuk menyerap hidup dan membentuknya kembali ke dalam kata-kata.

Kata-katanya bukanlah sekedar keterampilan yang datang dari otak yang keras untuk merebut makna hidup ke dalam seni kata-katanya, tapi dari kedalaman sumur jiwanya. Sebab sekitarnya hanyalah sampiran belaka dari jiwanya yang ingin menemukan sesuatu yang belum hadir dalam kata-katanya, hidup yang ditemukan.

Hidup itu sendiri mungkin mengguncangkan. Tapi begitu sampai ke dalam kata-katanya, guncangan-guncangan itu bisa saja menjadi lemas tak berdaya – ibarat penis yang mati setelah bersetubuh pagi tadi. Atau wajah pucat karena kekurangan darah.

Sebab begitulah puisi: bukan terutama datang dari kerja otak tapi dari kerja hati – passion. Otak kita bisa sangat terampil membuat esai, atau menyatakan diri ke dalam pemikiran yang terbentang. Tapi puisi? Tunggu dulu.

Bacaan tak banyak menolong kalau bakat kita memang kecil. Bacaan tinggallah sesuatu yang berselang-seling dalam tempurung. sebagai mercusuar yang menjadi angan-angan – angan untuk membuat puisi.

Niat untuk membuat puisi yang berbeda dalam dan terutama dari tradisi kepenyairan kita. Atau tradisi kepenyairan dunia. Dirinya diangankannya telah menjelma menjadi sesuatu yang berbeda, tapi kerja puisinya tak menampakkan ciri-ciri yang berbeda itu. Bahkan tak sampai pada kedalaman apa pun kecuali sekedar sentuhan kata-kata apa adanya, yang hampa makna. Hampa pula dari misteri kata-kata. Misteri kata-kata yang mewujudkan teka-teki hidup.

Teka-teki hidup adalah makna benda dan makna kata – makna itu sendiri, yang bergesekan. Benda dan makna memang sesuatu yang berselang-seling, ibarat malam dan siang tetapi dalam perputaran dan pergerakan seperti bola pingpong: cepat, bukan sesuatu yang merambat.

Kecepatannya sering membingungkan, dan sang penyair menyusunnya kembali ke dalam kata-kata dalam puisi.

Bolehlah penyair menyusunnya dengan otaknya, tapi otak saja tidak cukup. Otak hanya sekedar pengikat – pembentuk susunan. Yang menentukan akhirnya adalah teka-teki jiwanya sendiri.

Jiwanya yang seolah gua gelap dalam alam purba. Kegelapan yang ingin menghendaki terang, bukan malah nyemplung kembali ke dalam kegelapan.

Ah, kita harus berhadapan dengan regu tembak dulu, para lelaki yang urung menembak dan melepaskan kita dari lubang maut, sebelum bisa membuat puisi yang sebenarnya puisi.

Puisi yang berdarah. Puisi yang terentang antara hidup dan mati. Ada dan tiada. Puisi dari keringat hidup penuh warna. Memancarkan kekosongan. Tempat di mana jiwa dan raga kita menemukan oasenya. Dari hidup yang kadang bermakna kadang terasa sia-sia: untuk apakah semua makna itu, kalau bayang-bayang kematian mengintip sejak kita mencelat dari rahim ibu.

Baik kukutip puisi Tagore saja, puisi yang berupa cerpen pen yang menyerakkan dirinya ke dalam bait-bait puisi, terjemahan Abdul Hadi:

Jika gong berdengung sepuluh kali di pagi hari dan aku berjalan menuju sekolah, bertemulah aku setiap hari dengan penjual kelontong yang berteriak, “Manik! Manik batu!”

Tak ada yang memburu dia, tak ada jalan yang harus ditempuh, tak ada tempat ke mana ia harus pergi.

Aku ingin jadi penjual kelontong yang menghabiskan hari-harinya di jalanan sambil berteriak, “Manik! Manik batu!”

Jika sore hari pukul empat aku pulang dari sekolah, kulihat dari gerbang masuk tukang kebun sedang menyabit rumput di halaman.

Ia bekerja sesuka hatinya, mengotori bajunya dengan debu, berjemur di bawah panas matahari, kehujanan tanpa seorang pun melarangnya.

Aku ingin jadi tukang kebun yang bekerja sesuka hati, dan tak seorang pun melarangku.

Jika malam tiba dan ibu menyuruhku tidur, kulihat lewat jendela, peronda malam bolak-balik di gang.

Jalanan gelap, dan sepi, dan lampu pasar tegak bagai raksasa bermata merah di tengah kepalanya.

Peronda itu berjalan membawa lampunya bersama bayang-bayangnya, dan ia tak pernah tidur selama hidupnya.

Aku ingin menjadi peronda dan berjalan di jalanan sepanjang malam sambil menghalau bayang-bayang dengan lampuku.

Sumber: Millis Kompas

penyuluhan yang baik

Penyuluhan yang baik

Anda pernah duduk berjam-jam mendengar nara sumber ceramah atau seorang penyuluh beraksi? … berapa prosen yang Anda ingat hingga kini? Jika Anda menginginkan banyak kesan dan arti duduk berjam-jam di suatu kegiatan, sebaiknya Anda MENDENGAR, MENGATAKAN DAN MELAKUKAN SESUATU yang berkaitan dengan topik penyuluhan yang berlangsung