Mau jadi pemimpin? LATIHAN deh!


Kiat Menjadi Pemimpin yang Baik dan Efektif

Saya sisipkan foto Barack Obama, Calon Presiden Kulit hitam yang sedang berjuang menuju US 1, pernah ikut belajar di sekolah dasar di Jakarta.

Setiap orang yang memimpin haruslah menjadi pemimpin yang baik dan efektif, bukan asal tampil sebagai pemimpin. Pemimpin baik dan efektif akan bisa memberdayakan orang lain.

Menjadi pemimpin yang baik dan efektif bukanlah takdir, tetapi hasil dari belajar, berlatih, dan introspeksi tanpa henti. Pemimpin yang mengejar posisi dan kekuasaan semata, tidak mengindahkan opini orang lain, akan “berakhir”.

Apakah seseorang sudah terlahir sebagai pemimpin atau pemimpin bisa diciptakan?

Seperti kata John Maxwell (salah satu pakar kepemimpinan global), semua orang punya potensi menjadi pemimpin, yang berbeda adalah derajat bakat. Namun, potensi itu harus dikembangkan. Maka lembaga seperti Trisewu Leadership Institute (pengundang–Red) diperlukan. Di negara berkembang banyak yang punya potensi, namun tidak punya
kesempatan untuk pengembangan. Karena itu saya dengan senang hati datang ke sini untuk mendorong pelatihan kepemimpinan.

Pemimpin yang berkiprah di dunia adalah mereka yang ingin menjadi pemimpin. Mereka berlatih dan mempraktikkan kepemimpinan. Mereka maju, berkampanye, dan mengatakan ingin melayani dan kemudian memengaruhi orang untuk memilih mereka.

Persoalannya, begitu terpilih semua janji dilupakan. Mereka kemudian sibuk sendiri dan melayani kepentingan sendiri. Mereka terbenam dalam kelemahan manusia, di mana seorang yang makin kuat, makin makmur, cenderung menginginkan kekuatan dan kemakmuran yang lebih. Mereka tidak pernah puas.

Maka dari itu, kepemimpinan yang efektif harus dipelajari dan diraih. Belajarlah dan raihlah! Anda bisa meraih kepemimpinan jika rakyat melihat Anda sebagai pemimpin yang bekerja demi kebaikan banyak orang. Jadilah juga sebagai seorang pemimpin yang terus bertanya pada diri sendiri, apa hal terbaik yang bisa dilakukan.

Kepemimpinan yang efektif menuntut seseorang untuk tidak menggunakan kekuasaan demi kehormatan dan keagungan pribadi. Mereka seharusnya mengutamakan kekuatan pribadi (personal power), bukan kekuasaan sebagai posisi (positional power).

Personal power merujuk pada kemampuan berhubungan, berurusan, dan memengaruhi rakyat untuk tujuan dan arah yang baik. Jika Anda hanya memanfaatkan dan memanipulasi rakyat, nasib Anda akan berakhir. Pemimpin yang baik harus jujur, tulus, dan berjiwa mulia. Pemimpin yang baik tidak memanfaatkan atau memanipulasi rakyat untuk kepentingan sendiri. Inilah dua faktor yang kontras soal kekuasaan, antara positional power dan personal power.

Apa ciri-ciri utama pemimpin yang baik?

Saya sering bertanya pada banyak orang, apa karakter yang ingin mereka lihat dari pemimpin? Secara spontan mereka berkata ingin melihat kejujuran, kredibilitas, dan integritas. Jika Anda dipercaya mereka akan rela mengikuti pengarahan. Inilah kepemimpinan yang punya karakter. Saya ingin menambahkan bahwa mereka tidak hanya ingin pemimpin yang jujur, tetapi juga pemimpin yang peduli, memiliki ciri
sebagai pelayan. Ini dianut oleh banyak pemimpin sekarang ini. Pemimpin seperti itu punya kekuatan.

Ciri lain yang harus dimiliki pemimpin adalah dia harus punya visi dan misi yang kemudian dicocokkan dengan kultur yang berlaku di lingkungannya. Pemimpin harus punya kompetensi dan pengetahuan memberi arah dan petunjuk jelas soal hal visi dan misi. Pemimpin yang tidak punya pikiran jelas akan membuat rakyat bingung, bahkan membuat
situasi kacau-balau. Rakyat akan bertanya-tanya harus berbuat apa.

Kejelasan pengarahan sangat diperlukan, bahkan termasuk dalam situasi tidak jelas sekalipun. Kini kita hidup di dunia yang berubah cepat,juga sebagai dampak dari kemajuan teknologi. Dalam perubahan yang cepat itu, pemimpin harus tetap mampu memberi arahan.

Pemimpin juga harus punya komitmen pada pelaksanaan visi dan misi, memiliki semangat untuk bersikap, dan bertindak. Banyak pemimpin yang tidak memiliki semangat dan keberanian karena tidak punya komitmen pada visi dan misi karena takut.

Kembali ke soal kepemimpinan yang baik dan efektif, seorang pemimpin tidak saja harus intelek dan punya integritas moral. Dengan kemampuan intelektual dan integritas, kita bisa saja menyusun rencana yang terbaik. Namun pemimpin juga harus memiliki spiritualisme. Dengan spiritualisme itu setiap semangat, pikiran, dan tindakan kita menjadi terkait dengan Tuhan.

Lalu selanjutnya kita juga harus bertanya apa yang akan dilakukan Tuhan pada rencana kita. Dalam situasi ini, jawaban akan didapat. Tuhan datang untuk menolong, menyelamatkan, bukan menghancurkan. Dengan bimbingan Tuhan, Anda akan tetap menjadi pemimpin yang bersahaja. Di dalam diri pemimpin yang religius, juga ada sikap menghormati orang yang juga tidak setuju dengan kita. Ini adalah tipe pemimpin yang tak mengandalkan kekuasaan.

Pemimpin yang tidak punya keimanan yang hakiki, tidak peduli apa kata orang. Ada banyak pemimpin yang arogan. Ini terjadi di banyak tempat. Inilah yang terjadi pada Robert Mugabe (Presiden Zimbabwe). Pada kepemimpinan diktator, oposisi akan ditekan.

Pemimpin yang religius dan berpikir demokratis akan mendapatkan respons positif. Namun kepemimpinan seperti itu tidak mudah didapat. Dalam diri pemimpin ada kecenderungan untuk arogan. Faktor kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan menjadi unsur yang lebih banyak bermain. Pemimpin seperti ini tidak siap menerima penolakan.

Menjadi pemimpin religius itu bukan khayalan. Ada banyak pemimpin korporasi yang memilih Ibu Theresa sebagai model kepemimpinan. Mereka melihat kesederhanaan dan pengorbanan pada Ibu Theresa, yang menginspirasikan semangat dan kesediaan menderita. Tidak mudah. Jika bisa, orang akan respek dan mendengar Anda.

Sulitkah menjadi orang seperti Ibu Theresa?

Tidak. Yang benar adalah sulit berkorban. Namun yang harus diambil adalah kesiapan berkorban. Inilah biaya kepemimpinan. Bagaimana caranya untuk mendapatkan pemimpin yang peduli pada rakyat dan tidak cenderung menyalahkan pihak lain?

Pers turut berperan untuk menolong pemimpin. Persoalannya, banyak pers menjadi tunduk, mengambil posisi aman, takut konflik setelah pemerintah mengambil tindakan. Jika itu terjadi, maka Anda akan kehilangan pengaruh, semangat, dan niat. Menjadi pers yang sesungguhnya tidak mudah. Kekuatan politik sekarang cenderung
mendiamkan media. Anda harus punya semangat dan kekuatan. Dalam keadaan yang tidak demokrasi, kita membutuhkan pers yang genuine. Pemimpin bisa ditolong. Jika tidak ditolong, mereka bisa mentok dan menjadi diktator.

Media bukan untuk menyerang, tetapi memberi pertolongan dengan analisa yang baik dan benar sehingga bisa melakukan yang terbaik untuk pemimpin. Mengapa ada pemimpin yang takut mengambil keputusan? Mereka khawatir dengan perlawanan. Pemimpin puncak harus memutuskan dan bertindak. Jika Anda harus melakukan sesuatu, otomatis ada risiko.
Melakukan tindakan berisiko adalah bagian dari manusia. Yang terpenting, lakukan yang terbaik, maka Anda menjadi orang yang dihargai. Inilah semangat yang harus diambil.

Siapa pemimpin yang baik di Asia atau di Indonesia?

Di berbagai seminar di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, saya sering bertanya siapa pemimpin yang baik. Di Asia, mereka langsung mengatakan Soeharto dan Soekarno. Keduanya dianggap sebagai pemimpin yang baik dan efektif.

Kemudian sebagian orang mengkritik mereka…

He-he-he…! Keduanya mempunyai visi dan mampu memberikan pengarahan. Ada niat bahwa mereka ingin melayani kepentingan umum. Kemudian banyak muncul persoalan dan kesulitan. Saya tidak punya hak menghakimi mereka, Anda-andalah yang berhak.

Seseorang bisa dikatakan sebagai pemimpin yang baik jika mewariskan kesinambungan. Banyak pemimpin yang meninggalkan kemandekan setelah tak berkuasa?

Ya. Inilah umumnya yang terjadi di negara berkembang. Awalnya, mereka berniat kuat menjadi pemimpin, namun setelah terpilih keinginan untuk melayani surut. Mereka juga tidak senang dengan pengarahan orang lain. Mereka ingin menjalankan pengarahan dari diri sendiri. Mereka melupakan janji, menjadi egois, arogansi. Ketamakan pada kekuasaan menjadi faktor mendikte perilaku mereka. Ini tragedi. Memang tidak
mudah. Ada kelemahan mereka sebagai seorang manusia. Saya tidak mengabaikan faktor kelemahan manusia itu.

Siapa pemimpin favorit Anda?

Nelson Melson. Dia punya daya tahan dan tak dendam. Setelah bebas dari penjara dia tidak bicara soal memaafkan. Saya juga kagum pada Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru. Mereka adalah orang yang punya integritas, bekerja untuk kepentingan banyak orang. Anda tidak punya banyak pemimpin seperti ini, yang tidak candu pada kekuasaan dan mereka itu punya daya tahan dan kekuatan luar biasa.

Apakah Anda pikir Gandhi tak ditekan Inggris? Apakah dia berhenti? Jika Anda berhenti, maka berakhirlah semuanya. Winners never quit, and quitters never win. Mereka yang memilih mundur, eranya berakhir. Maka itu perlu memiliki ketahanan.

Artikel Kompas Minggu 6 Mei 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s